Selasa, 12 Maret 2013

sinopsis novel sebelum cahaya





This book is a songlit — a novel inspired by LETTO's famous song Sebelum Cahaya. Until it is available at your nearest book stores, please enjoy the following synopsis + excerpt…

----------------------------------------------------------


Synopsis

"Enggar sayang, tahu nggak apa yang aku lakukan kalau teringat kamu saat malam hari? Aku akan memandangi toples kaca yang aku bawa saat pindah dari pesisir kita. Masih ingat kan ceritaku tentang toples kaca itu? Aku mengisinya dengan enam genggam pasir dari pantai kita, dua genggam aneka macam kerang dan karang laut, sebuah bintang laut kemerahan yang aku temukan telah terdampar mati di pasir, serta sepotong ranting hanyut yang suka kamu pungut kalau kita sedang berjalan di pantai… Ternyata pantai kita dalam toples kaca itu memang mujarab. Keajaiban cinta yang tersimpan di dalamnya telah berhasil membantuku melewati tahun-tahun ini jauh dari kamu."


Di pesisir indah itu Enggar dan Mariena pertama kali bertemu, bertengkar, lalu jatuh cinta. Dan di pesisir indah itu juga mereka harus berpisah. Lalu waktu berlalu. Mereka bertemu kembali. Tumpukan surat yang Mariena kirim ke Enggar bertahun-tahun menjadi bukti perasaanya masih sama. Namun Enggar telah berubah. Labirin kegelapan yang menyelimutinya kini, membuat sosok cowok itu menjadi pesimis.

"Dan ingatlah Enggar, apa pun yang terjadi, kamu akan selalu bisa pulang ke dalam hatiku." —  Itulah yang ingin Mariena lakukan. Meyakinkan Enggar untuk pulang ke dalam hatinya. Selamanya.

----------------------------------------------------------


LETTO's Comments:

Saya sangat terkesan. Novel ini tidak hanya sekedar menceritakan tentang bagaimana melihat cahaya, namun merasakan dan memahaminya sebagai sebuah spirit kehidupan. Siapa pun atau apa pun itu, sesungguhnya dapat kita jadikan sebagai cahaya hidup kita. Bacalah novel ini dan Anda akan tahu. Great!
(NOE, vokalis Letto)


Membaca novel ini saya langsung tahu bahwa novel ini tidak muncul begitu saja dari khayalan penulis, tapi dari intuisi hati yang tertuang di goresan-goresan yang luar biasa!
(PATUB, gitaris Letto)


Kesedihan, kegembiraan, kepedihan, tangisan, jeritan, pisuhan, dan semua unsur sifar-sifat manusia bergolak dan teramu dengan baik dalam novel ini. Salut buat penulis!
(ARI, bassis Letto)


Inilah novel biasa dengan alur dan setting yang biasa, namun diolah oleh seorang genius! Jujur, saya terbawa olehnya…
(DEDI, drummer Letto)

----------------------------------------------------------

Excerpt

Kutahu aku telah mencintainya
sebelum cahaya merekah untuk
pertama kali dalam kehidupanku.

Kutahu aku semakin mencintainya saat
cahaya memancar indah memberi
berbagai warna dalam kehidupanku.

Dan kutahu aku tetap mencintainya
walau kini cahaya tak lagi memberikan
keajaiban warna dalam kehidupanku.

Bagiku, dialah cahaya abadi dalam
labirin kegelapan yang menyelimutiku kini.



Suatu pagi di pesisir selatan Jawa Barat.
Enggar mengerang pelan saat merasakan tubuhnya kaku karena posisi tidurnya yang serba salah semalaman tadi. Akan dipenggalnya kepala si Danu yang mengaku sudah menjemur dan menggebuk kasurnya dengan sapu lidi kemarin siang. Padahal ia sudah memberinya upah lima ribu perak. Nyatanya, kasur itu masih tetap tidak nyaman seperti sebelumnya. Biasanya  kondisi kasur itu jadi lumayan jika habis dijemur, tapi tidak kali ini. Dan itu hanya berarti satu hal.
Brengsek, pasti si kampret kecil itu sudah menipuku lagi, maki Enggar dalam hati.
Hubungannya dengan si kampret itu memang bisa dibilang sebagai kutukan mutual simbiosis. Ia butuh bantuan si kampret untuk melakukan hal-hal kecil, sementara si kampret itu butuh uang yang sering diberikannya sebagai upah atas bantuannya. Masalahnya Danu itu belum pernah diajar tata krama untuk tidak membohongi orang yang mempunyai kekurangan fisik seperti dirinya. Itu juga sebabnya ia sering jadi korban Danu. Tapi ia memang tak bisa benar-benar marah pada Danu. Kampret kecil itu jelas mengingatkan dirinya sendiri saat berusia dua belas tahun. Hal yang sama mungkin akan dilakukannya juga jika ia berada pada posisi Danu seperti saat ini. Siapa sih yang tidak mau dapat uang jika bisa menipu dengan mudah orang yang memberi uang itu?




Setelah menerima ember berisi ikan-ikan itu, Enggar segera berjalan menuju tempat  penjemuran ikan yang berada beberapa meter di sisi rumah menghadap ke laut lepas. Bunyi deburan ombak di pagi itu terdengar begitu jernih. Enggar berhenti sejenak, mengangkat wajahnya ke langit dan membiarkan sinar mentari pagi menghangatkan wajahnya. Ia menghirup napas dalam-dalam. Ke mana pun ia pergi, ia tak akan pernah dapat melupakan bau segar laut di pagi hari yang telah dikenalnya sejak lahir. Di pesisir inilah ia pertama kali menatap dunia, dan di pesisir inilah suatu saat nanti ia tahu bahwa ia akan menutup kedua matanya untuk selamanya. Walau ia pernah meninggalkan tempat ini selama beberapa tahun, namun baginya pesisir ini adalah rumahnya—tempat di mana ia akan selalu merasa pulang ke tempat seharusnya ia berada. Tempat yang menyimpan banyak kenangan. Termasuk kenangan dari masa lalu yang kini berkelebat di kepala Enggar….




     Seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun menarik rok Mariena pelan, membuatnya menghentikan langkah, berbalik ke arah kanannya. Gadis kecil itu menjulurkan tangannya yang berisi setumpuk kalung dari kerang laut, lalu berkata sesuatu yang awalnya sama sekali tak dapat dimengerti oleh Mariena. Butuh beberapa menit baginya untuk menyadari jika ternyata gadis kecil itu tuna rungu.
"Kalung yang cantik sekali," ujar Mariena sambil berjongkok di depan gadis kecil itu. "Berapa? Empat ribu satunya? Ah, sepuluh ribu tiga buah? Baik, aku akan ambil enam buah kalau begitu. Coba tunjukkan semua yang kamu punya biar aku bisa memilihnya."
Gadis kecil itu tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang tidak lengkap. Kantong plastik hitam yang dipegang dengan tangannya yang satu lagi segera ditaruh di atas jalanan aspal, lalu tanpa ragu ditumpahkan seluruh isinya. Di dalamnya keluar tumpukan kalung-kalung kerang beraneka ragam. Gadis kecil kembali berkata-kata dalam bahasanya sendiri sambil bolak-balik menunjukkan berbagai kalung jualanannya kepada Mariena.

Semoga bermanfaat,:)
 menurut pendapat saya novel ini adalah novel yang membuat para pembacanya terhanyut kedalam ceritanya dan dapat merasakan gambaran yang begitu nyata tentang alur ceritanya :)

Sabtu, 16 Februari 2013

menghidupkan melalui derita

cinta : semua manusia membutuhkan itu, semua manusia pernah merasakan jatuh cinta, cinta menghidupkan melalui derita , bersyukur lah orang2 yg pernah merasa menderita karna cinta, apa kalian sadar ? Cinta menjadikan diri seseorng menjadi dewasa, lebih akan mengerti apa sebenar.y hidup ini, merasakan kehidupan yg benar2 hidup. Jadi untuk orng2 yg pernah merasa sangat menderita karna cinta., bersyukur lah !Karna cinta adalah sebuah anugrah , yg menghidupkan hidup kalian semua kaum adam dan hawa ! :)